PANEL 1

Ruang kelas kuno. Bangunan batu. Cahaya matahari masuk dari jendela.

Suara murid-murid ribut.

Murid A:
“Eh, lihat tuh… Jelata datang.”

Murid B:
“Masih aja sekolah padahal nggak ada gunanya.”


---

PANEL 2

Jaylat berjalan pelan. Wajah datar. Tatapan kosong. Duduk di kursi belakang dekat jendela.

Narasi (kotak hitam kecil):
Nama yang tak tercatat… lebih mudah diinjak.


---

PANEL 3

Guru masuk dengan tongkat kayu.

Guru:
“Hari ini ujian potensi sihir. Siapa pun yang hasilnya tinggi, akan dipilih langsung oleh kerajaan.”

Seluruh kelas heboh.

Murid C:
“Kesempatan jadi bangsawan!”

Murid D:
“Jaylat pasti paling bawah lagi.”

Tawa.

Jaylat hanya menatap keluar jendela.


---

PANEL 4

Satu per satu murid maju. Bola kristal pengukur sihir bersinar.

Guru:
“Nilai 7.”
“Nilai 5.”
“Nilai 8.”

Tepuk tangan.


---

PANEL 5

Guru:
“Berikutnya… Jaylat.”

Kelas hening sesaat, lalu terdengar bisikan dan tawa kecil.

Murid A:
“Palingan 1.”


---

PANEL 6

Jaylat berdiri. Langkahnya tenang. Ia menyentuh bola kristal.

Dalam satu detik…

Kristal menyala terang.

Angka muncul: 3

Semua tertawa.

Murid B:
“Tuh kan.”


---

PANEL 7 (ZOOM DETAIL TANGAN JAYLAT)

Jari Jaylat sedikit bergerak.

Aura hitam tipis mengalir—
tapi hanya terlihat sekilas.

Angka di kristal sebenarnya bergetar di dalam:
3… 40… 200… ∞

Namun dari luar tetap terlihat angka 3.

Narasi kecil:
Mengurangi kekuatan jauh lebih sulit daripada melepaskannya.


---

PANEL 8

Guru menghela napas.

Guru:
“Seperti biasa… rendah.”

Jaylat tersenyum kecil.

Jaylat (dalam hati):
“Bagus.”


---

PANEL 9 (MALAM HARI – ASRAMA)

Jaylat berdiri sendirian di halaman belakang.

Bayangannya di tanah… tidak mengikuti gerakannya.

Bayangan itu memiliki tanduk.

Tanah mulai retak perlahan.

Suara dalam bayangan:
“Kau terus menahan diri… sampai kapan?”

Jaylat menutup mata.

Jaylat:
“Selama dunia masih bisa berjalan tanpa dihancurkan.”

Aura hitam menghilang.

Retakan tanah kembali normal.


---

PANEL TERAKHIR

Keesokan paginya.

Kerajaan mengirim utusan ke sekolah.

Utusan:
“Kami mendeteksi lonjakan sihir abnormal tadi siang. Seseorang di sekolah ini menyembunyikan sesuatu.”

Close-up wajah Jaylat.

Tatapan berbeda dari biasanya.

Narasi akhir:
Mereka mulai mencari Raja Iblis…
Tanpa tahu ia duduk di kursi paling belakang.

Manga Story

PANEL 1 Ruang kelas kuno. Bangunan batu. Cahaya matahari masuk dari jendela. Suara murid-murid ribut. Murid A: “Eh, lihat tuh… Jelata datang.” Murid B: “Masih aja sekolah padahal nggak ada gunanya.” --- PANEL 2 Jaylat berjalan pelan. Wajah datar. Tatapan kosong. Duduk di kursi belakang dekat jendela. Narasi (kotak hitam kecil): Nama yang tak tercatat… lebih mudah diinjak. --- PANEL 3 Guru masuk dengan tongkat kayu. Guru: “Hari ini ujian potensi sihir. Siapa pun yang hasilnya tinggi, akan dipilih langsung oleh kerajaan.” Seluruh kelas heboh. Murid C: “Kesempatan jadi bangsawan!” Murid D: “Jaylat pasti paling bawah lagi.” Tawa. Jaylat hanya menatap keluar jendela. --- PANEL 4 Satu per satu murid maju. Bola kristal pengukur sihir bersinar. Guru: “Nilai 7.” “Nilai 5.” “Nilai 8.” Tepuk tangan. --- PANEL 5 Guru: “Berikutnya… Jaylat.” Kelas hening sesaat, lalu terdengar bisikan dan tawa kecil. Murid A: “Palingan 1.” --- PANEL 6 Jaylat berdiri. Langkahnya tenang. Ia menyentuh bola kristal. Dalam satu detik… Kristal menyala terang. Angka muncul: 3 Semua tertawa. Murid B: “Tuh kan.” --- PANEL 7 (ZOOM DETAIL TANGAN JAYLAT) Jari Jaylat sedikit bergerak. Aura hitam tipis mengalir— tapi hanya terlihat sekilas. Angka di kristal sebenarnya bergetar di dalam: 3… 40… 200… ∞ Namun dari luar tetap terlihat angka 3. Narasi kecil: Mengurangi kekuatan jauh lebih sulit daripada melepaskannya. --- PANEL 8 Guru menghela napas. Guru: “Seperti biasa… rendah.” Jaylat tersenyum kecil. Jaylat (dalam hati): “Bagus.” --- PANEL 9 (MALAM HARI – ASRAMA) Jaylat berdiri sendirian di halaman belakang. Bayangannya di tanah… tidak mengikuti gerakannya. Bayangan itu memiliki tanduk. Tanah mulai retak perlahan. Suara dalam bayangan: “Kau terus menahan diri… sampai kapan?” Jaylat menutup mata. Jaylat: “Selama dunia masih bisa berjalan tanpa dihancurkan.” Aura hitam menghilang. Retakan tanah kembali normal. --- PANEL TERAKHIR Keesokan paginya. Kerajaan mengirim utusan ke sekolah. Utusan: “Kami mendeteksi lonjakan sihir abnormal tadi siang. Seseorang di sekolah ini menyembunyikan sesuatu.” Close-up wajah Jaylat. Tatapan berbeda dari biasanya. Narasi akhir: Mereka mulai mencari Raja Iblis… Tanpa tahu ia duduk di kursi paling belakang.

More Manga to Explore