
Manga Story
Bagas selalu pamit dengan cara yang rapi. Tidak pernah tergesa, tidak pernah dramatis. Seolah pamit adalah bagian dari etika kerja—bukan perasaan. “Duluan ya.” Kalimat itu keluar dari mulutnya hampir setiap hari, di jam yang hampir sama. Nada suaranya datar, senyumnya tipis, cukup untuk disebut sopan. Ia berdiri. Mengambil tas. Menunggu satu detik. Selalu satu detik. Tidak untuk apa-apa. Hanya jeda kecil yang tidak pernah ia sadari alasannya. “Ya,” jawab seseorang dari balik layar komputer. Ada yang mengangguk. Ada yang bahkan tidak menoleh. Bagas melangkah pergi. Lift turun perlahan. Pantulan wajahnya terlihat di dinding kaca—tenang, tidak terburu-buru, tidak meninggalkan apa pun di belakang. Ia menyukai rasa ini. Rasa pergi tanpa ditahan. Di meja kerjanya, semuanya tertata rapi. Tidak ada barang personal yang mencolok. Tidak ada foto. Tidak ada catatan yang tertinggal. Bagas percaya, barang yang mudah ditinggal tidak akan menyulitkan siapa pun. Termasuk dirinya.








































