Langit masih ingat hari pertama ia bertemu Putri.
Hujan turun deras di kampung halaman mereka. Saat itu, ia baru saja pindah dari kota bersama orang tuanya. Anak-anak desa agak enggan mendekati bocah baru itu—terlalu pendiam, terlalu canggung. Tapi tidak dengan Putri.
“Namamu siapa?”
“...Langit.”
“Bagus. Aku Putri. Ayo main!”
Begitu saja, tanpa banyak basa-basi, Putri menarik tangan Langit dan membawanya ke tengah hujan. Mereka bermain lumpur, membuat sungai kecil dari aliran air, dan tertawa hingga langit berhenti menangis.
Sejak hari itu, mereka tak terpisahkan.
Tahun-tahun berlalu, dan mereka tetap dekat. Dari SD sampai sekarang di SMA. Mereka punya tempat rahasia di tengah hutan dekat rumah kakek Langit—sebuah batu besar di samping sungai, di mana mereka sering membayangkan jadi penjelajah, pemburu naga, atau bahkan penjaga dunia.
Namun, SMA membuat segalanya... berbeda.
Mereka masih bersama, tapi kini ada rasa asing yang tumbuh diam-diam.
Langit mulai sadar ia sering mencuri pandang saat Putri tertawa. Putri juga merasa jantungnya berdebar aneh setiap Langit memujinya, meski hanya soal tugas sekolah.
Tapi keduanya memilih diam. Mereka takut.
Takut kehilangan kenyamanan yang sudah bertahun-tahun mereka miliki.
Liburan panjang akhirnya tiba.
Langit mengajak Putri ke kampungnya, seperti dulu. Kakek Langit sudah lama tinggal sendiri, dan mereka sudah berjanji akan mengunjunginya lagi saat liburan datang.
“Tempat kita masih ada gak ya?” tanya Putri di perjalanan.
“Kalau belum tumbang dimakan waktu sih, masih. Kita bisa cek besok,” jawab Langit sambil tersenyum kecil.
Di malam hari, mereka duduk di beranda rumah kayu, menatap bintang. Suasana hening, nyaman... dan menggantung.
Putri ingin bilang sesuatu. Begitu juga Langit. Tapi tak satu pun dari mereka berani membuka suara lebih dulu.
Esok harinya, mereka masuk hutan.
Namun saat mereka menemukan jalan menuju tempat bermain dulu, mereka malah melihat sesuatu yang aneh: sebuah gubuk yang tak pernah ada sebelumnya. Terlihat tua, ditelan akar dan dedaunan, tapi... utuh. Seperti menunggu seseorang.
Mereka saling pandang.
“Kamu juga liat, kan?”
“Iya... harusnya di situ cuma ada batu besar.”
Rasa penasaran lebih kuat dari rasa takut.
Mereka masuk.
Dan di situlah mereka melihatnya: sebuah buku besar tergeletak di atas altar batu. Tidak berdebu. Tidak kotor. Seolah baru saja ditaruh.
Langit mendekat.
“Putri... kamu lihat ini?”
Putri mengangguk. Mereka mendekat bersamaan. Saat Langit menyentuh buku itu—halaman terbuka sendiri, mengeluarkan cahaya putih menyilaukan.
Mereka berteriak. Dunia berguncang.
Lalu semuanya gelap.

Manga Story

Langit masih ingat hari pertama ia bertemu Putri. Hujan turun deras di kampung halaman mereka. Saat itu, ia baru saja pindah dari kota bersama orang tuanya. Anak-anak desa agak enggan mendekati bocah baru itu—terlalu pendiam, terlalu canggung. Tapi tidak dengan Putri. “Namamu siapa?” “...Langit.” “Bagus. Aku Putri. Ayo main!” Begitu saja, tanpa banyak basa-basi, Putri menarik tangan Langit dan membawanya ke tengah hujan. Mereka bermain lumpur, membuat sungai kecil dari aliran air, dan tertawa hingga langit berhenti menangis. Sejak hari itu, mereka tak terpisahkan. Tahun-tahun berlalu, dan mereka tetap dekat. Dari SD sampai sekarang di SMA. Mereka punya tempat rahasia di tengah hutan dekat rumah kakek Langit—sebuah batu besar di samping sungai, di mana mereka sering membayangkan jadi penjelajah, pemburu naga, atau bahkan penjaga dunia. Namun, SMA membuat segalanya... berbeda. Mereka masih bersama, tapi kini ada rasa asing yang tumbuh diam-diam. Langit mulai sadar ia sering mencuri pandang saat Putri tertawa. Putri juga merasa jantungnya berdebar aneh setiap Langit memujinya, meski hanya soal tugas sekolah. Tapi keduanya memilih diam. Mereka takut. Takut kehilangan kenyamanan yang sudah bertahun-tahun mereka miliki. Liburan panjang akhirnya tiba. Langit mengajak Putri ke kampungnya, seperti dulu. Kakek Langit sudah lama tinggal sendiri, dan mereka sudah berjanji akan mengunjunginya lagi saat liburan datang. “Tempat kita masih ada gak ya?” tanya Putri di perjalanan. “Kalau belum tumbang dimakan waktu sih, masih. Kita bisa cek besok,” jawab Langit sambil tersenyum kecil. Di malam hari, mereka duduk di beranda rumah kayu, menatap bintang. Suasana hening, nyaman... dan menggantung. Putri ingin bilang sesuatu. Begitu juga Langit. Tapi tak satu pun dari mereka berani membuka suara lebih dulu. Esok harinya, mereka masuk hutan. Namun saat mereka menemukan jalan menuju tempat bermain dulu, mereka malah melihat sesuatu yang aneh: sebuah gubuk yang tak pernah ada sebelumnya. Terlihat tua, ditelan akar dan dedaunan, tapi... utuh. Seperti menunggu seseorang. Mereka saling pandang. “Kamu juga liat, kan?” “Iya... harusnya di situ cuma ada batu besar.” Rasa penasaran lebih kuat dari rasa takut. Mereka masuk. Dan di situlah mereka melihatnya: sebuah buku besar tergeletak di atas altar batu. Tidak berdebu. Tidak kotor. Seolah baru saja ditaruh. Langit mendekat. “Putri... kamu lihat ini?” Putri mengangguk. Mereka mendekat bersamaan. Saat Langit menyentuh buku itu—halaman terbuka sendiri, mengeluarkan cahaya putih menyilaukan. Mereka berteriak. Dunia berguncang. Lalu semuanya gelap.

More Manga to Explore